Showing posts with label taman jakarta. Show all posts
Showing posts with label taman jakarta. Show all posts

Saturday, July 19, 2008

Taman Martha Tiahahu




Tuesday, July 8, 2008

Taman Lapangan Banteng (Teks)

SIAPA yang tidak mengenal Lapangan Banteng. Sebuah lapangan yang di tengah-tengahnya berdiri Monumen Pembebasan Irian Barat. Di masa Batavia dulu, di sekitar lapangan inilah Waltevreden atau kota baru, berkembang. Hal itu dilakukan, karena Kumpeni Belanda menyadari bahwa kawasan dalam Benteng Batavia sudah tidak sehat. Udara kian pengap karena penduduk terus bertambah dan menambah kepadatan.Karena itulah lantas Gubernur Jenderal Daendels dengan kekuasaannya di masa itu, membongkar Benteng Batavia serta mendirikan istana di dekat Lapangan Banteng. Sayangnya keinginan itu tak tercapai seutuhnya. Daendels harus angkat kaki dari Batavia karena Gubernur Jenderal Sir Stamford Raffles menduduki kota Batavia. Daendels tidak melihat wujud istana yang diimpikannya. Lepas dari kandasnya angan-angan Daendels itu, Lapangan Banteng menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. Lapangan yang satu ini dikenal sebagai tempat untuk berburu kijang orang-orang kaya Belanda di Batavia. Tuan tanah usai sibuk berbisnis atau mengawasi perkebunannya, mereka bersama-sama atau sendiri-sendiri, berburu satwa di hutan persis di Lapangan Banteng. Pada masa penjajahan Belanda dulu, warga setempat sering menyebut Lapangan Banteng sebagai Lapangan Singa. Lantaran di tengahnya terdapat tiang tinggi yang di atasnya bertengger patung singa. Kabarnya di masa Batavia dulu memang banyak hutan di luar Benteng Batavia. Salah satunya di Lapangan Banteng tersebut. Mungkin ketika itu banyak ditemukan harimau, singa, babi hutan atau bahkan banteng sekali pun.Salah satu gubernur jenderal Belanda yang suka sekali mengisi hari-harinya dengan berburu di hutan yang kini terletak Lapangan Banteng adalah Gubernur Jenderal Maetsuijker, tahun 1644. Tak tanggung-tanggung, untuk berburu di hutan yang lebat tersebut, Maetsuijker mengerahkan 800 orang pemburu di Lapangan Paviljoen (letaknya kira-kira di Lapangan Banteng sekarang ini). Orang-orang itu tidak semuanya berburu, tapi ditugaskan untuk menggiring satwa-satwa liar ke arah utara. Di antaranya kijang, babi hutan dan banteng. Di sebelah utara, sang Gubernur Jenderal Maetsuijker dengan bidik senjata laras panjangnya sudah siap mengokang, dan dor..dor..dor.. satwa liar yang digiring itu pun terkapar. Belakangan tidak cuma orang-orang Belanda kaya di Batavia yang berburu. Warga setempat pun ikut berburu. Bahkan, orang-orang Cina di Batavia pun ikut-ikutan. Hasilnya memang lumayan untuk dijual di dalam Benteng Batavia. Tapi, sayang pemerintah Kumpeni Belanda punya akal bulus. Mereka mematok pajak sebesar 10 persen bagi setiap hasil buruan yang masuk ke gerbang kota. Ya, sama seperti sekarang ini rakyat sudah sangat susah, pemerintah masih menggenjot pajak yang tinggi. Akibatnya, secara perlahan-lahan jumlah pemburu di hutan di Lapangan Banteng menjadi berkurang.Konon, Lapangan Banteng yang dijadikan sebagai hutan untuk tempat berburu itu pada tahun 1623, sebenarnya merupakan tanah milik Anthonie Paviljoen Sr. Akhir abad ke-17, lapangan yang sudah berganti tangan beberapa kali itu dibeli pemerintah untuk tangsi tentara Prancis dari Mauritius yang diperbantukan di Batavia. Setelah penghuninya sering berganti, lapangan disebut Paradeplaats atau Lapangan Parade. Sekitarnya diubah menjadi asrama tentara yang membujur hingga ke taman Pejambon dan Taman du Bus di belakang Departemen Keuangan sekarang ini. Di sisi selatannya, di tempat yang kini menjadi Hotel Borobudur terdapat tujuh asrama tentara. Di belakangnya ada tujuh asrama lagi. Ketiga sisi lain lapangan itu menjadi perumahan perwira.

Diambil dari sinarharapan co.id

Taman Lapangan Banteng





Sunday, June 29, 2008

Taman Menteng






Rencana Gubernur DKI Sutiyoso mengubah fungsi Stadion Menteng menjadi Taman Menteng2004. Sekitar bulan September 2004, Dinas Pertamanan DKI Jakarta membuka sayembara desain Taman Menteng, ruang terbuka publik serba-guna. Sayembara menekankan pada tema penyelesaian masalah parkir melalui parkir bawah tanah dan ruang publik yang memiliki karakter kontemporer. Soebchardi Rahim dengan tema desain "Dual Memory" sebagai pemenangnya. Desain pemenang sayembara tentunya sesuai selera Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu menghilangkan stadion bersejarah yang sudah berumur 84 tahun itu. Sementara desain yang tetap mempertahankan keberadaan stadion dan memadukannya dengan taman interaktif yang serba-guna justru ditolak.

Sejak awal keberadaan stadion yang menjadi salah satu daerah resapan air di Jakarta Pusat itu sudah direncanakan pindah. Dari penekanan tema desain, menghadirkan parkir bawah tanah, jelas terlihat adanya upaya menghilangkan resapan air di kawasan itu.

Rencana menata Taman Menteng seperti itu pernah mencuat di saat Surjadi Soedirdja menjadi Gubernur DKI Jakarta (1992-1997). Namun, dengan pertimbangan akan merusak resapan air, Surjadi menolak rencana tersebut. Kelompok Studi Arsitektur Lanskap yang diketuai Yudi Nirwono Joga mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan terhadap rencana memindahkan Stadion Menteng dan menjadikan taman serba guna. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memedulikannya.

Kepala Dinas Pertamanan Provinsi DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan bahwa perkiraan biaya pembangunan Taman Menteng senilai Rp 45 miliar semuanya ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sementara pengelolaan pascapembangunan mengandung prinsip pembiayaan pengelolaan secara mandiri dengan bentuk badan pengelola dan alternatif kedua adalah kerja sama dengan pihak swasta.

Asisten Perekonomian Sekretariat Daerah DKI Jakarta Ma’mun Amin mengatakan, masa pengelolaan Stadion Lebak Bulus oleh Grup Bakrie dengan kontrak 20 tahun akan berakhir pada tahun 2010. Untuk pengambilalihan pengelolaan di tengah jalan, Pemerintah Provinsi DKI harus membayar uang kompensasi senilai Rp 13 miliar tidak secara tunai.

Hal tersebut dilakukan karena pengelola lama masih belum membayar fasilitas sosial dan fasilitas umum kepada Pemerintah Provinsi DKI atas Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah (SIPPT) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Rencananya di Taman Menteng nanti akan terdapat sarana olahraga futsal, badminton, jogging, taman dan monumen sepakbola, serta gedung parkir tiga lantai berkapasitas 200 mobil. Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan Taman Menteng ini sebesar 32 miliar rupiah, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2006.

Pada tanggal 28 April 2007, taman ini diresmikan dan dikategorikan sebagai taman publik yang memiliki fasilitas olahraga, 44 sumur resapan, dan lahan parkir.


Diambil dari wikipedia indonesia.

Wednesday, June 25, 2008

Taman Suropati










Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, yang dibikin di Zaman Belanda pada 1926 dan dulu dikenal sebagai Bisschoplein, sampai sekarang masih bisa dinikmati oleh berbagai kalangan dengan beragam kegiatan. Bahkan, taman yang terletak di dekat rumah dinas Gubernur DKI Jakarta dan kediaman resmi Duta Besar AS itu dimanfaatkan sebagai arena berolah raga jalan kaki dan lari.


Diambil dari kompas.com